Rabu, 14 November 2007

"Apa kabar Al Qur'an" *

17 Ramadhan 1428 tahun yang lalu disebuah tempat di gua Hiro Makkah Al Mukarromah Ayat dan Surat Al Qur’an yang pertama diturunkan. Dengan perintahnya
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,,,,,,” (Al Alaq: 1-5)
14 Abad sudah Al Qur’an berada ditengah-tengah umat manusia. bukan hanya bagi umat islam, seperti yang termaktub dalam QS 2: 184, Al Quran menjadi petunjuk bagi seluruh manusia. Menjadi inspirasi, dan memberi jalan keluar bagi semua masalah kehidupan, disegala bidang. Karena sebagai mukjizat yang kekal, ia telah dijamin keorisinilannya oleh Allah sendiri. Pertanyaannya adalah, sejauh manakah kita sebagai pemilik kitab suci tersebut telah memeliharanya?

Pada bulan ini, bulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an, semarak “ngurip-nngurip” Al Qur’an terjadi dimana-mana. Hampir disetiap masjid, surau, bahkan dikamar-kamar dirumah yang dihuni oleh kaum muslimin terdengan lantunan ayat suci Al Qur’an. Berbagai acara tadarrus bersama, kajian Al Qur’an, juga tidak kalah diselenggarakan oleh majlis atau lembaga yang pada bulan lain tidak pernah dilakukan. Seakan Bulan Ramadhan sebagai bulan Al Qur’an benar-benar terasa. Bukan hanya tadarrus dan kajian Al Qur’an, biasanya kegiatan tersebut dibarengi dengan acara bakti sosial, pemberian santunan untuk anak yatim dan lain-lain. Tapi sayangnya, kegiatan-kegiatan semacam itu seakan hanya “boleh” dilakukan pada bulan ramadhan. Habis bulan ramadaha, maka sepi pula masjid-masjid, surau-surau, dari lantunan ayat suci Al Qu’an. Bahkan kadang disebagian tempat dirasa ganjil jika ada tadarrus di masjid-masjid menjelang maghrib atau menunggu shubuh. Suatu hal yang tidak seharusnya terjadi. Jadi sekali lagi, sejauh mana kita telah benar-benar memelihara (“ngurip-ngurip”) Al Qur’an? Apakah cukup sekedar di bulan ramadhan saja?

Suatu hari jauh sebelum bulan ramadhan, saya pernah mendapati ditempat tinggal seorang teman, ketika merapihkan tumpukan buku yang berantakan diatas meja belajar, saya dapati Mushhaf Al Qur’an yang sudah usang, terselip hampir paling bawah dianatar tumpukan buku-buku kuliah. Saya bersihkan, sangat berdebu dan terlihat kalu ia jarang sekali, jika tidak dikatakan tidak pernah, dibaca oleh pemiliknya. Selain ditumpukan buku tersebut, saya juga menemukan mushhaf dengan terjemahannya juga diantara tumpukan buku yang sudah tidak dibaca didalam lemari. Kondisinya masih lumayan baik, tapi bau debu hampir tercium di setiap halamannya. Mungkin hal seperti itu bukan hanya ada ditempat teman saya tersebut, tetapi dibanyak tempat ditempat lainnya. Al Qur’an, berada ditumpukan yang paling bawah dari buku-buku karena ia tidak begitu sering/ penting dibaca, atau bahkan, karena dirasa mengganggu tata buku, maka ia disimpan diantara buku-buku yang memang sudah tidak lagi dibaca.
Dan pada bulan ramadhan ini, yang disebut-sebut sebagai bulan Al Qur’an, entah bagaimana kabarnya,,,

Al Quran atau Koran

Berapa bukukah, koran, novel, komik, yang bisa kita selesaikan dalam sehari? Dan bandingkan, berapa harikah, minggu, atau bulan yang kita butuhkan untuk mengkhatamkan Al Qur’an?
Perbandingannya mungkin akan cukup jauh. Mungkin kita bisa menyelesaiakan novel yang tebalnya 500an halaman lebih kurang dari satu minggu saja, ataupun untuk buku-buku yang tidak begitu tebal, maka bisa kita selesaikan beberapa buku dalam satu minggu. Ditambah beberapa komik dari persewaan yang mengeluarkan uang. Sedangkan untuk al Qur’an, yang Allah telah menyediakan ganjaran bagi yang membacanya, dengan gratis, seakan berat sekali untuk membacanya. Syukur satu bulan kita bisa mengkhatamkan membaca Al Qur’an, kadang harus tertunda sampai beberapa bulan karena terlalu “sibuk” dengan tugas-tugas lain.
Allah sendiri yang akan menjaga dan memelihara Al Qur’an, memang benar adanya, seperti yang disampaikan dalam QS Al Hijr: 9.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”
Hal itu ditunjukkan dengan begitu banyaknya Ulama samapai anak-anak yang bukan hanya hafal Al Qur’an, tetapi juga memahami isinya. Tapi mari kita lihat disekeliling kita, berapa banyak orang yang lebih suka tadarrus sebelum atau sesudah sahur, daripada mereka yang berada di depan televisi untuk menyaksikan “Para Pencari Tuhan”?. Berapa banyak orang yang tadarrus, melantunkan ayat suci Al Quran dimasjid-masjid, dibandingkan dengan mereka yang “Ngabuburit” ria di alun-alun, super market, jalan-jalan, dengan dalih mencari takjil untuk berbuka puasa? Serelah kita bandingkan, mungkin kita bisa memposisikan, peran mana yang bisa kita pilih dari keduanya?.

Ramadhan bulan Al Qu’an, jadi sudah sepatutnya jika kita meramaikan hari-harinya dengan lebih banyak membaca Al Qur’an, lebih giat mempelajarinya. Tapi, perlu di ingat, Al Qur’an, bukanlah hanya untuk bulan ramadhan, dimana ketika bulan ramadhan kita menghidupkannya, sedangakn pada hari-hari yang lain kita seolah melupakannya. Al Qur’an pantas, dan tetap diutamakan untuk dibaca dan dipelajari pada bulan apapun, sepanjang hari, sepanjang tahun, selama hayat kita. Sehingga Al Quran bukan lagi sesuatu yang jauh dari kita, tetapi ia selalu hidup dan kita hidupkan dalam keseharian kita.

Wallahu a’lamu bishshowab!

ditulis u/ buleti Al Khafidz JQH Edisi Ramadhan 1428 H

0 komentar: